Monday, 30 March 2020

[REVIEW] Tangkal Virus Corona dengan Rajin Mandi Pakai Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash

March 30, 2020 2
Assalamualaikum Wr. Wb.

Semenjak virus corona dinaikan statusnya oleh WHO menjadi pandemi dan sejak Presiden RI mengumumkan bahwa Indonesia telah positif pada awal maret lalu semakin membuat kita sadar arti pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan. Nah, ternyata dengan keluarnya anannouncement tersebut masyarakat mulai panik dan resah, tidak sedikit yang kemudian brutal memborong bahan pangan juga alat-alat kesehatan yang ada di supermarket. Coba deh kalian tengok baik di apotek maupun di supermarket, kalau mau cari masker dan hand sanitizer susahnya nauzubillah. Giliran ada harganya selangit.


Kalau aku sih lebih prepare beli sabun kemudian rajin-rajin aja deh untuk cuci tangan bahkan setiap habis keluar rumah aku langsung masuk kamar mandi untuk mandi serta mengganti seluruh pakaian. Karena konon mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir lebih efektif untuk membunuh virus. Dari sisi penggunaan hand sanitizer setelah digunakan 5 kali, tangan harus dicuci untuk mencegah resistensi antiseptik. Sedangkan sabun dapat digunakan berulang kali. Dengan menggunakan hand sanitizer residu kuman yang mati masih menempel di tangan. Sedangkan jika menggunakan sabun, residu kuman yang mati terbawa air mengalir. Nah kira-kira ngerti kan lebih efektif yang mana?

Oia ngomong-ngomong soal rajin mandi, selain karena alasan menjaga kebersihan tubuh dari virus corona juga karena ketagihan dengan harumnya body wash yang beberapa minggu ini aku baru beli. Kalian kenal gak dengan Vitalis? Pasti deh kalian mengenal Vitalis sebagai brand parfum, hayoo ngaku... Sama, aku awalnya juga taunya Vitalis itu parfum tapi sekarang doi udah punya produk baru berupa body wash yang harumnya kayak parfum jadi sehabis mandi serasa kayak mandi parfum aja.

Nah, di blogpost kali ini aku sengaja akan menuliskan sedikit review dari si Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash ini. Ada tiga varian yang tiga varian dengan masing-masing manfaat dan kandungan aktif sebagai berikut:
  1. White Glow (Skin brightening) dengan kandungan Licorice dan Susu membantu mencerahkan kulit. 
  2. Fresh Dazzle (Skin refreshing) dengan kandungan Jeruk Yuzu dan Teh Hijau memberikan kesegaran saat mandi dan membuat mood lebih baik.
  3. Soft Beauty (Skin nourishing) dengan kandungan Alpukat dan Vitamin E membantu menutrisi kulit dan menjadikannya lembap.

Packaging

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash dikemas dalam botol plastik kuat yang berisikan mulai dari 50 ml sampai dengan 450 ml. Kebetulan aku mendapatkan kemasan ukuran 200 ml dan sangat pas ukurannya  baik untuk dipakai harian di rumah atau dibawa bepergian. Selain kemasan botol, juga terdapat kemasan refill dalam bentuk pouch. Bagian tutup botolnya sangat aman dan tidak beresiko tumpah karena berbentuk tombol press on. Setiap varian memiliki warna dengan komposisi dan keharuman yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan konsumen.




Ingredients

Aqua, Sodium Laureth Sulfate, Cocamidopropyl Betaine, Lauric Acid, Myristic Acid, Potassium Hydroxide, Palmitic Acid, Fragrance, Sodium PCA, Glycol Distearate, Cocamide Methyl MEA, Glycerin, Potassium Chloride, BHT, Tetrasodium EDTA, Etidronic Acid, Propylene Glycol, Camelia Sinensis Leaf Extract, Citrus Junos Fruit Extract, Butylene Glycol, Citric Acid, DMDM Hydantoin, Potassium Sorbate, Sodium Benzoate, CI 42090. CI 19140


Texture

Tekstur dari Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash sama seperti kebanyakan sabun cair lainnya; kental, licin, berwarna dan mengkilap. Dengan tekstur yang cukup kental membuat pemakaian lebih awet karena hanya dengan menuangkan sedikit sabun ke puff sudah mampu menghasilkan busa lembut dan wangi yang melimpah. Selama pemakaian kurang lebih 2 minggu aku merasakan nyaman di kulit karena tidak jadi kering padahal kulitku termasuk kulit yang sensitif. 



Scent

Dari ketiga varian Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash aku pertama kali mencoba kemasan hijau yang Fresh Dazzle. Varian yang ini diperkaya dengan ekstrak yuzu orange dan green tea. Any way kemasan yang Fresh Dazzle ini tidak hanya sekedar wangi tetapi memberikan efek menyegarkan yang tahan lama. Sangat cocok dipakai mandi setelah melakukan aktivitan outdoor seperti olah raga atau kerja di lapangan.

Varian kedua adalah kemasan warna pink yaitu Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash White Glow. Wanginya memang tidak sekuat Fresh Dazzle tetapi lebih soft dan manis karena kandungan cherry dan raspberry. Varian ini membuatku lebih merasa feminim karena keharumannya yang natural dari buah-buahan. 

Terakhir adalah kemasan ungu yaitu Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Soft Beauty yang diperkaya dengan ekstrak Avocado dan Vitamin E, untuk menutrisi kulit agar tetap elastis dan lembut. Wangi dari varian soft beauty ini menurutku adalah perpaduan antara sporty dan feminim yang ada pada kedua varian sebelumnya. Setelah pemakaian akan terasa efek segar yang membuat relax.

Price

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash dapat dibeli di beberapa e-commerce seperti Blibli, Shopee, Tokopedia atau secara offline di supermarket seperti Indomaret atau Alfamart dengan harga Rp 26.000,00 untuk satu paket kemasan botol 100 ml dan refill ukuran 450 ml.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Wednesday, 11 March 2020

Pengalaman Sirkumsisi (Sunat) Pada Balita

March 11, 2020 0
Assalamualaikum Wr. Wb.

Sudah lama pengen cerita tentang masalah fimosis yang terjadi pada anak keduaku Arka, tapi baru kali ini bisa menuliskannya. Seperti yang aku tuliskan di beberapa blogpost tentang kelahiran Arka, dia lahir begitu sempurna di mataku. Namun seiring pertumbuhannya berbagai problem kesehatan nampak mulai muncul satu persatu. Mulai dari pneumonia, fimosis sampai yang terakhir akhirnya dokter spesialis anak memvonisnya asma. Nah kali ini aku akan sedikit bercerita masalah fimosis yang sebenarnya sudah lama sekali terdeteksi tetapi baru bulan kemaren dilakukan sirkumsisi atau bahasa gampangnya disunat.

Persiapan masuk ruang operasi

Awal mula curiga fimosis adalah saat dia beranjak sekitar usia 4-5 bulan, anak ini tiba-tiba ogah-ogahan nyusu dan jarang sekali buang air kecil. Trus dia sekalinya mau nyusu banyak pasti berakhir muntah, kayanya perutnya diisi dikit aja udah langsung penuh gitu. Pernah aku ngecek seberapa mili sih dia mampu menghabiskan ASI sekali minum dan aku kuwatir banget karna di usia 4 bulan yang semestinya bisa minum 80-120 ml dia hanya mau minum 50 ml kalau kelabihan pasti muntah.

Pernah juga suatu ketika muncul bercak orange kemerahan di diapersnya, aku langsung shock dong ya itu kaya darah gitu menurutku. Pikiran sudah kemana-mana, takut banget dia infeksi saluran kencing. Langsung kubawa tuh anak ke dokter dan dilakukan cek urine. Alhamdulillah hasilnya negatif, lega trus kenapa dong sampai keluar bercak merah? Kata dokternya itu kurang minum dan cuaca panas juga bisa mempengaruhi. 

Oke lah waktu itu aku telateni lagi dia nyusu, kadang selesai nyusu langsung (breastfeeding) masih aku suapi ASI Perah pakai sendok. Ya, waktu itu benar-benar perjuangan banget karena walaupun dia kelihatan gendut tetapi berat badannya naik gak pernah ngebut kaya pada bayi-bayi lainnya yang diawal kelahiran selalu kenaikan berat badannya ciamik banget.

Usia 9 bulan masalah fimosis itu mulai dipastikan diagnosisnya dan benar dokter bedahpun mengiyakan kalau ni anak fimosis. Beliau ngasih sugest untuk dibuka dulu ujung penisnya yang lengket biar ada sirkulasi di ujung penisnya jadi gak menghambat air urine yang mau keluar. Well, kita turuti aja waktu itu dibuka kulup penisnya yang lengket ke ujung penisnya dan tiap hari telaten bersihin sekalian ngasih salep biar gak lengket lagi. Rutinitas ini berjalan sampai beberapa bulan sampai pada titik aku males lagi ngurusi tu titit bayi bahkan tiap hari aku pakein diapres. Udah jarang banget aku bersih-bersihin tuh ujung penis karena dia lebih sering dimandiin mbaknya. 

Hingga suatu Sabtu saat aku masih di Sekolah, masih ada jam ngajar tiba-tiba suami kirim pesan WA bilang Arka ngeluh penisnya sakit. Aku bales aja coba deh dilepas dulu diapernya dan pakain celana yang longgar. Sorenya aku sampe rumah, dan kucek tuh penis udah kayak bengkak gitu dan ujungnya jadi merah. Mertua ngira itu digigit serangga tapi aku dah langsung mikir nih anak gak bisa pipis lancar lagi dan mulai infeksi nih kayaknya. Langsung ku minta suami telp dokter  bedah yang dulu buka kulupnya. Kebetulan banget ada jam praktek di RS Hermina dan kita langsung cus kesana. 

"Ini harus di sunat nih, udah infeksi nih kalo kayak gini. Dibuka paling nanti gak sampai 8 jam udah ngembung lagi ujungnya" Yah, walaupun rada gak siap akhirnya kami iyain aja kata dokternya dari pada ditunda-tunda makin beresiko.

Hari itu Sabtu sore kita langsung daftar nginep dan rencana malemnya jam 20.00 WIB mau langsung tindakan sirkumsisi. But, akhirnya tindakan diundur Minggu pagi sekitar jam 08.00 WIB karena hari itu kan malem minggu dan dokter anestesi pada udah gak ada yang stay atau bisa di calling. Wajar sih ya malam minggu, dokter juga butuh metime.

Paginya saat mau tindakan sih perasaanku masih biasa aja tapi saat dokter anestesi ngasih penjelasan tentang SOP operasi, aku langsung deh super melloww takut kejadian macem-macem dan takut kehilangan. Kita nunggu di luar sekitar 30 menit dan di suruh suster masuk untuk menemani pemulihan katanya operasi sudah selesai dan semua berjalan lancar. Ya Allah legaaaaa banget rasanya...

Masa pemulihan ini yang bikin aku bener-bener kepayahan ngadepin ni anak. Dia jadi super cranky rewel dan terus menerus nangis. Dia bener-benar pulih dari efek biusnya lama banget sampe sekitar habis dzuhur baru bisa dipindah ke ruang perawatan. Sampe di ruang perawatan yang ada di lantai 4 aku lihat ni anak gak tega, sedih aku tuh kasihan banget langsung tak tawari minum dan kebetulan aku sama suami dari pagi juga belum sempet sarapan akhirnya order Grab Food Ayam Geprek Keprabon. Saat pesanan dateng langsung dibuka sama suami, dia juga pengen cepet-cepet makan karna sudah kelaperan. "Eh coba dong anaknya disuapin siapa tau mau kan laper semaleman puasa" Aku bilang gitu. Habis sesuap dia minta lagi, lagi dan lagi sampe sekotak nasi geprek ludes nih dimakan sama Arka. Ya Allah nak laper banget ya nak? 



Sorenya setelah semua administrasi beres, kita diperbolehkan pulang. Drama itupun dimulai saat sampai di rumah. Dia nangis terus sepanjang hari sambil bilang "sakit..sakit..sakit" sampai kakaknya aja ikutan nangis lihat adeknya kesakitan kayak gitu. Dan sedihnya ni malah kakaknya yang jadi kayak trauma gitu kalau ngomongin sunat. Dia bilang gak mau disunat kan sakit kayak adek itu.. PR banget nih buat kami buat ngilangin traumanya.

Dokter bilang penyembuhan butuh waktu sekitar 3 minggunan karena kulupnya bener-bener lengket dan sudah ada infeksi jadi beda sama penyembuhan untuk sunat yang normal. Ternyata gak sampai seminggu ni anak sudah gak betah diam udah lari-larian, panjat-panjat kemana-mana. Ya Allah Alhamdulillah banget.  Mungkin bisa sembuh secepat itu karena ni anak jadi gampang banget makan protein-protein, ayam, ikan, telor semua oke aja dia makan.

Semoga sehat terus ya sayang. 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Monday, 9 March 2020

Bagaimana Cara Menumbuhkan Rasa Kasih Sayang Pada Diri Anak?

March 09, 2020 6
Assalamualaikum Wr. Wb.

Pemikiran tentang kasih sayang sekarang mulai mengalami pergeseran arti, banyak anak-anak menganggap kasih sayang itu dinilai dari meteri. Sering anak mengangap bahwa orang tua sayang terhadapnya apabila apa yang  diinginkan dipenuhi. Ini yang sekarang aku alami pada anak sulungku. Perih rasanya hati ini saat dia melontarakan kalimat "Ibu jahat gak mau belikan aku bla bla bla (Someting he want, makanan, ice cream, mainan atau keinginan lain yang dia kehendaki)". Disitu aku benar-benar merasa jadi ibu yang jahat, bukan karena gak mampu menuruti keinginannya tetapi kenapa aku belum bisa mendidik anakku menjadi anak yang pandai berterimakasih dan bersyukur padahal selama ini tidak kurang-kurang aku memenuhi kebutuhannya.


Hati ini tambah terkoyak saat membaca berita tentang anak ABG di Jakarta Pusat yang masih berusia 15 tahun sudah terlibat dalam kasus pembunuhan terhadap seorang anak balita. Anak yang terbiasa berprestasi, memiliki karakter pendiam tetapi punya hasrat untuk membunuh demi mendapat suatu titik kepuasan. Media selalu memberitakan bagaimana kesedihan orang tua korban dan sedikit sekali yang menyoroti bagaimana perasaan orang tua pelaku. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana perasaan dan emosi kedua orang tua pelaku melihat anaknya tega melakukan tindakan sekeji itu terhadap orang dekat yang ada disekitarnya.  Mereka tentu saja merasa sangat gagal mendidik anaknya. Mereka hancur dengan perasaan berdosa, bersalah, malu dan perasaan tidak berguna sebagai orang tua.


Membentuk karakter anak  sesuai dengan nilai dan norma adalah sebuah PR orang tua yang tiada habisnya. Apalagi di era globalisasi yang telah banyak membawa perubahan sosial mau tidak mau menjadikan tugas kita sebagai orang tua semakin berat. Kita sendiri harus belajar lagi untuk menyesuaikan dengan perkembangan, belum juga memahami apa yang kita pelajari tetapi harus menyampaikannya dengan baik kepada anak-anak kita. Bukankah itu pekerjaan yang sulit?

Sekarang anak-anak bebas berkelana kemanapun meskipun kita melihat mereka meringkuk di atas sofa ruang tamu, mereka yang mengaku anak rebahan itu ternyata pikirannya sudah sampai di belahan dunia manapun. Ya, semua itu berkat kecanggihan teknologi. Aku tidak pernah menganggap bahwa teknologi adalah disruption bagi pendidikan keluarga tetapi menjadi tantangan besar yang harus kita kendalikan sehingga dapat memberikan manfaat yang baik untuk perkembangan anak-anak kita.

Kembali lagi kepada kasus pembunuhan oleh anak ABG 15 tahun di atas, apakah semuanya adalah kesalahan anak itu sendiri atau justru kedua orang tuanya? Miris sekali ketika kubilang orang tua memberikan andil terbesar dalam membentuk karakter anak. Bagaimana seorang anak kemudian tumbuh menjadi sosok yang kejam, tidak punya belas kasihan bahkan kehilangan rasa kasih sayang. Kemudian bagaimana cara kita untuk menumbuhkan rasa kasih sayang itu pada diri anak-anak kita sehingga mereka dapat tumbuh menjadi orang yang penuh cinta? Aku sendiri tidak bisa berbicara banyak karena masih berada dalam tahap belajar dan berjuang membangun karakter itu kepada anak-anakku di rumah ataupun anak-anakku di sekolah tempatku mengajar.

Hal pertama yang selalu aku tekankan, aku ulang-ulang adalah mengajak anak-anak untuk menghargai sesama. Tidak hanya menghargai secara vertikal yang artinya cukup orang yang lebih dewasa, orang yang lebih berkuasa yang kita hargai tetapi kepada siapapun meskipun mereka adalah orang-orang yang usia atau statusnya dibawah kita. Lebih-lebih terhadap sesama manusia, kasih sayang kepada alam dan makhluk selain manusiapun harus ditumbuhkan. Misalkan merawat tanaman, mencintai binatang, mengajarkan anak untuk tidak buang sampah sembarangan karena hal tersebut bisa merusak lingkungan. Oh iya di kasus anak ABG itu juga ada yang memberitakan bahwa dia gemar sekali melakukan perbuatan sadis kepada binatang, melempar kucing dari lantai 2 dan lain sebagainya. Itulah mengapa rasa kasih sayang harus dipupuk sejak dini termasuk menyayangi binatang. Binatang juga bagian dari alam semesta dan selayaknya kita hidup berdampingan tanpa saling menyakiti.

Kedua berusaha memberikan perhatian sederhana untuk menunjukkan rasa kasih sayang orang tua kepada anak. Kita bisa memberikan apresiasi atau reward kecil atas setiap usaha baik yang telah dilakukan anak sehingga mereka bisa terpacu untuk selalu berbuat baik. Pemberian reward inipun juga disesuaikan porsinya, jangan sampai anak justru selalu berharap mendapatkan imbalan atas apa yang telah dilakukannya. Hal ini justru akan membentuk anak materialistis yang selalu mengharapkan imbalan.

Ketiga, selalu menunjukan wujud kasih sayang di depan mereka. Contoh kecilnya adalah dengan selalu membiasakan berjabat tangan saat akan berangkat atau pulang dari bepergian.  Sering menunjukan cinta dengan mengucap "Aku sayang........" serta berkata lembut kepada siapapun.

Keempat, aku mulai mengajak anak-anak untuk melakukan wisata atau kunjungan ke tempat-tempat yang tidak biasa, misalnya mengalihkan kebiasaan jalan-jalan ke mall kemudian sekali-kali diajak ke daerah pedesaan dengan rutinitas kerja yang lebih keras. Bisa juga mengajak ke panti asuhan dan tempat-tempat dimana orang atau anak yang kurang beruntung dari pada anak kita berkumpul sehingga dapat menumbuhkan rasa simpati, empati dan rasa bersyukur.

Kelima, ini paling penting untuk diperhatikan oleh setiap orang tua yaitu bagaimana perilaku anak dalam menggunakan teknologi khususnya gadget. Mau tidak mau orang tua harus masuk ke dalam dunia yang disukai anak-anak. Game misalnya, orang tua juga harus mampu memanfaatkan fasilitas game sebagai media belajar bagi anak-anak bukan sekedar sebagai tempat main-main yang nantinya akan membunuh karakter baik anak itu secara perlahan-lahan. Atau yang mungkin sudah punya anak remaja cewek yang mulai menyukai film-film drama macam drama korea, baca-baca novel online seperti wattpad, webtoon dan lain sebagainya. Kita sebagai orang tua harus tau apa yang mereka mainkan dan mereka baca biar bisa menilai itu pantas gak buat anak-anak seusianya.

Sebagai orang tua, kita selalu berdoa agar dimampukan mendidik anak-anak yang berakhlak mulia dan memiliki rasa kasih sayang yang tinggi dengan sesama dan lingkungan.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Thursday, 5 March 2020

Tantangan Mendidik Generasi Zelenial

March 05, 2020 2
Assalamualaikum Wr. Wb.

Lama gak posting blog tapi sekalinya mau posting kenapa bahasannya jadi kelihatan berat banget sih ya... Hmmm ini adalah kegelisahan yang selama ini aku rasakan dan bermaksud menuliskannya sebagai healing pada diriku sendiri. And maybe aku bakalan ngikutin cara Raditya Dika untuk bisa menemukan ide kreatifnya dalam membuat konten yaitu dengan mencari kegelisahan yang ada di hati dan pikirannya kemudian dijadikan bahan untuk menciptakan kreativitas.


Well, semenjak berkecimpung dalam profesi guru aku semakin banyak menemukan permasalahan dan tantangan dalam mendidik anak. Permasalahan itu semakin rumit dibandingkan dulu saat aku masih belum menekuni profesi ini, bisa dibilang apa yang kualami dulu tidak seberapa karena hanya sebatas masalah tantrum pada balita. Lalu gimana emosionalnya jiwa ibu saat menghadapi anak gak mau makan atau stresnya ngadepin BB anak yang stuck berbulan-bulan.

Saat ini aku dihadapkan pada generasi yang lebih dikenal dengan generasi Zelenial yaitu perpaduan antara generasi Z dan generasi Y (milenial). Perubahan dan perkembangan ini tidak hanya sekedar peralihan dari penggunaan media komunikasi konvensional ke media digital tetapi juga mengenai sikap, cara belajar, karakter sampai cara pandang mereka terhadap suatu gejala. Sisi positif dari karakter zelenial umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media dan teknologi digital.  Karena melimpahnya informasi ini, maka generasi Zelenial diperkirakan menjadi generasi yang memiliki wawasan lebih dan kaya akan data. Mereka lebih terbuka, pendukung kesetaraan hak, kepercayaan diri yang bagus, dan mampu mengekspresikan perasaan. Dengan demikian mereka akhirnya bersifat liberal, optimis dan mudah menerima ide-ide baru. Namun generasi ini terkesan individual, mengabaikan masalah politik, fokus pada nilai-nilai materialistis dan kurang peduli terhadap sesama. Bahkan generasi ini cenderung malas, narsis, dan potensial melakukan atau mengalami bullying karena rasa saling menghargai mereka sudah hilang.

Aku sendiri terlahir di tahun 90an berarti masih masuk dalam generasi milenial tetapi ternyata ketika aku menghadapi generasi Z banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Bagaimana cara mengajar anak-anak generasi Zelenial sehingga kita bisa memanusiakan mereka dan tetap memberikan kemerdekaan untuk belajar? Ini adalah kegelisahan luar biasa yang hampir tiap hari menyelimuti pikiran saat kakiku melangkah memasuki gerbang sekolah di pagi hari.

Baca juga : Menjadi Guru Madrasah

Tak jarang pula aku menghadapi sebrangan pendapat dengan teman sejawat tentang cara mengajar dimana mereka masih sering beranggapan bahwa teknologi khususnya gadget adalah disruption yang telah memasuki dunia pendidikan dan menyita perhatian peserta didik. Akhirnya kebijakan yang dilakukan sering menjadi kontroversi dalam lingkungan baik sekolah maupun masyarakat. Selain itu membangun hubungan dengan peserta didik saat ini bukanlah perkara mudah. Untuk bisa memahami karakternya mau gak mau kita harus masuk ke dalam dunia mereka sehingga mampu memberikan pendampingan dan bimbingan secara bijaksana tetapi terkadang generasi Z mengartikan kedekatan itu sebagai bentuk perhatian yang lain. Makanya untuk bisa menemukan porsi yang tepat dalam membangun hubungan antara guru dan peserta didik adalah hal yang pelik.

Lalu apa yang sudah aku lakukan dalam menghadapi itu semua?

Pertama, aku selalu berusaha mencari data dari setiap apa yang dilakukan. Kebiasaan ini akan membuat setiap unsur baik manajemen, guru, pegawai dan siswa mampu meletakkan tujuan pertumbuhan dirinya masing-masing secara transparan. Melakukan verifikasi, klarifikasi dan positif thingking setiap menemukan isu. Mencoba untuk berpikir secara objektif tanpa memberikan justifikasi terhadap objek. Ketika menghadapi anak dengan problem yang mereka bawa aku selalu berusaha memposisikan diri di posisi anak, kemudian memahami perasaannya baru selanjutnya kita berdiskusi dan bersama-sama menemukan solusi yang tepat.


Kedua, berusaha bertanggung jawab secara profesional pada diri kita sendiri dan terhadap orang yang kita layani dalam hal ini khususnya adalah peserta didik. Bertanggung jawab terhadap diri sendiri dapat ditunjukkan dengan menjadi role model yang baik terhadap peserta didik dan orang-orang disekitar kita, ada sinkronasi antara apa yang kita ucapkan dengan apa yang kita lakukan. Kalau dalam bahasa Islam adalah ilmu dan adab yang selaras. Bertanggung jawab terhadap orang yang kita layani, apakah kita sudah melakukan pembelajaran yang pantas? Cara belajar generasi zelenial tidak bisa disamakan dengan generasi-generasi sebelumnya jadi guru harus mampu menjembatani kesenjangan itu. Melakukan pembelajaran dengan metode-metode yang inovatif menjadi tantangan yang harus dipecahkan setiap pendidik. Bisa dengan berkolaborasi dengan anak untuk menentukan pemilihan metode belajar misalnya dengan memilih metode game based learning untuk membantu anak menemukan sebuah kesimpulan atas materi.

Ketiga, mendesain materi dan penugasan secara jelas dengan pendekatan yang sesuai, esensial, bernilai manfaat secara langsung. Penyampaian materi dilakukan dengan membawa pikiran peserta didik kepada realita secara riil yang terjadi dalam kehidupan mereka. Apa pun substansi materi, guru wajib belajar mengikuti perkembangan untuk menyesuaikan isi dengan topik yang penting saat ini (uptodate issues). Selanjutnya peserta didik menemukan sendiri data, menganalisa, mengidentifikasi dan menyusun strategi penyelesaian membuat mereka aktif dan prinsip peserta didik sebagai pusat belajar menjadi pemandangan riil. Dengan demikian generasi zelenial tidak akan merasa belajar hal sia-sia karena tidak bisa diterapkan dalam kehidupan.

Huhh... rasanya sedikit plong bisa menceritakan setitik kegelisahan ini. Mohon koreksi dan masukan bagi siapapun yang sudah mempir ke blogpost ini demi kemajuan dunia pendidikan secara umum dan secara khusus dapat membantuku untuk meningkatkan kompetensi sebagai seorang pendidik di era industri 4.0 dengan generasi zelenial.

Wassalamualaikum Wr. Wb.