Saturday, 4 January 2020

Rasanya Jadi Guru Madrasah

Assalamu'alaikum,

Biasanya awal tahun selalu membuat resolusi yang berisi target-target yang ingin dicapai untuk waktu setahun kedepan namun tidak untuk kali ini. Entah kenapa di Tahun 2020 ini ingin sekali aku memulai dengan menulis tentang apa yang aku rasakan. Sebuah perpaduan antara rasa syukur dengan rasa ingin marah, ingin mengeluh dan ingin lari dari kenyataan. Aku benar-benar malas membuat resolusi dan mencoba untuk let it flow aja dalam menjalani hari-hari selanjutnya. Tahun lalu saja aku tidak goals satu targetpun makanya tahun ini biarlah semua berjalan dengan alamiah. 

Awal Tahun ini artinya sudah satu semester aku menekuni profesi baru sebagai teacher. Sebuah pekerjaan baru yang benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Meskipun lulusan pendidikan bukan berarti aku bisa maksimal menjalani peran itu. Aku baru menyadari bahwa pekerjaan ini sangatlah menantang, bikin pikiran dan hati kayak roller coaster. 
Foto diambil Saat HUT PGRI 
Well, aku coba cerita satu persatu apa yang terjadi di Sekolah tempatku mengabdi. Siapa tau ada yang membaca dan bisa jadi salah satu pertimbangan untuk perbaikan, syukur-syukur bisa menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan #ngarep.

6 Hari Sekolah

Kementerian kami berbeda dengan Kementerian Pendidikan yang sudah menerapkan hari efektif belajar menjadi 5 hari. Di tempat kami masih harus masuk sekolah sampai hari Sabtu. 

Dari sisi siswa, jelas tidak semua dari mereka menerima dengan lapang apa yang sudah menjadi keputusan tersebut. Sebagai guru mata pelajaran yang memiliki jam mengajar di Hari Sabtu rasanya aku sudah bosan menerima keluh kesah mereka. Terkadang muak melihat mereka enggan menyambut guru masuk kelas, muak melihat mereka malas-malasan di kelas. Semua itu karena alasan "ini kan hari Sabtu bu".

Terkadang aku sendiri terbesit rasa menyesal sudah keluar dari zona nyaman sebelumnya. Tapi lagi-lagi  keinginan untuk berbagi ilmu, harapan untuk menjadi manusia yang berguna dengan sesama menguatkanku untuk tetap berjuang dengan apapun keadannya. Artinya aku harus belajar lagi, harus bersabar lagi dan harus disiplin lagi.

Madrasah Bukan Murni Pilihan Anak

Semakin membaiknya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penanaman nilai-nilai keagamaan sejak dini menjadi semakin membudlaknya calon peserta didik yang mendaftar ke sekolah-sekolah Islam. Selain itu dengan bergesernya indikator siswa berprestasi yang salah satunya dinilai dari jumlah hafalan Al-Quran juga menjadi alasan orang tua mendorong anak-anaknya masuk ke Pondok Pesantren atau Sekolah Islam baik negeri maupun swasta.

Ternyata hal tersebut tidak selalu baik terhadap perkembangan anak baik secara psikologis maupun akademik. Mereka tidak akan menjadi diri mereka sendiri, tentu saja ini adalah masalah besar yang akan menghambat perkembangan anak. 

Hari ini  kedua kalinya aku masuk kelas setelah liburan semester. Kebetulan sekali juga masih bernuansa tahun baru maka aku coba mengajak anak-anak untuk refleksi apa yang telah didapat pada tahun lalu atau semester sebelumnya. Banyak sekali target yang bisa dicapai bagi anak-anak yang memang suka di Madrasah tetapi tak sedikit pula yang gagal mencapai target mereka karena memang tidak tertarik dengan pelajaran baik mapel umum mapun keagamaan. Berbagai hambatan yang menjadikan mereka gagal mencapai target juga diungkapkan dengan tujuan mendapatkan solusi sehingga di Tahun 2020 dan tahun selanjutnya mereka tidak akan mengulang kegagalan yang sama dengan hambatan yang sama pula. Selain mengajak untuk refleksi diri, tak lupa kuajak anak-anak merenung dan menemukan target yang ingin dicapai selanjutnya.

Aku sempat tercengang ketika membaca salah satu resolusi yang ditulis anak-anak. Ada yang ingin segera pindah dari Madrasah karena merasa tidak tertarik sekolah di situ. Rasanya hancur sekali membaca ini tetapi aku lihat wajah mereka, betapa mereka merasa tidak nyaman dengan keadaannya, betapa mereka ingin apa yang ada dihati dan pikirannya dipahami. Mungkin mereka bisa berkembang di tempat yang benar-benar sesuai dengan passion mereka.
Resolusi anak
Mapel Umum Sering Disepelekan Dibandingkan Mapel Agama 

Ini resiko yang harus diterima jika tidak bisa menjadi guru mapel umum dengan personal branding yang disukai anak-anak. Siswa Madrasah juga  dituntut untuk mempelajari ilmu-ilmu diluar pengetahuan umum. Mapel Agama Islam masih dibagi menjadi berbagai cabang keilmuan, sehingga dalam satu tingkat mereka harus menguasai lebih dari 20 mata pelajaran.

Karena target mereka lebih banyak ke hafalan Al-Quran maka sering sekali waktu mereka habis untuk itu dan menyepelekan mapel umum kecuali kalau guru tersebut benar-benar disukai siswa.

***
Sebenarnya masih banyak sekali yang ingin aku ceritakan tetapi sementara ini dulu ya, siapa tau kapan-kapan ada sekuelnya hehehe

Wassalamu'alaikum

No comments:

Post a comment

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan pesan, senang dapat sharing dengan Anda :)