Mengajak Balita Toilet Training dengan Santai dan Menyenangkan. Berikut 5 Tips yang Dapat Ibu Lakukan !

By yeni susanti - 11:10:00

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ibu punya anak balita yang sudah waktunya toilet training ? Ternyata mengajak anak balita untuk melakukan buang air di kamar mandi bukanlah perkara mudah. Fase ini membutuhkan sebuah usaha yang tidak mudah bagi ibu dan anak itu sendiri. Perlu diterapkan beberapa trik agar proses ini dapat berjalan dengan sukses.  Toilet training dalam bahasa awamnya adalah belajar buang air di kamar mandi. Toilet training merupakan proses pengajaran untuk mengontrol buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) secara benar dan teratur (Zaivera, 2008).

Tips Toilet Training
Dalam tulisan ini aku akan mencoba sharing dan berbagi pengalaman mengajak Rafa toilet training secara santai dan menyenengakan tanpa adanya paksaan. Sebenarnya sudah lama sekali aku pengen menuliskan hal ini tetapi baru berani melakukannya sekarang setelah Rafa berusia 2,5 tahun dan telah aku nyatakan lulus tahapan toilet training. Standard kelulusan yang aku berikan kepadanya sebenarnya juga belum maksimal. Jika sedang melakukan perjalanan jauh aku masih memberikan kelonggaran dan memakaikannya popok tetapi overall, dalam sehari-hari Rafa sudah cukup lancar untuk bilang "pipis" atau "eek" saat merasa akan buang air. 

Sebenarnya aku tidak terlalu memaksakan Rafa untuk segera lepas popok diusianya sekarang ini. Tapi aku pikir tidak ada salahnya jika dicoba dengan santai toh dia sudah cukup lancar bicara dan komunikasi dua arah. Berikut akan aku share bagaimana pengalamanku selama ini mengajak Rafa untuk toilet training :

1. Kenali Kesiapan Anak

Kapan toilet training bisa dimulai? Jawabannya adalah tunggu sampai anak siap untuk melakukannya. Anak dapat dikatakan siap apabila sudah mampu berkomuniasi dua arah. Artinya anak sudah mampu memahami apa yang disampaikan lawan bicaranya dengan mengunakan kalimat-kalimat sederhana. Anak balita terkadang menangis atau menunjuk-nunjuk sesuatu juga termasuk dalam bentuk komunikasi tetapi yang aku maksud adalah komunikasi verbal yaitu ketika anak sudah dapat bicara.

Bukan berarti anak yang belum bicara tidak bisa mulai diajak toilet training tetapi hal ini akan lebih membutuhkan usaha keras karena ibu harus mampu mengenal dan memahami bahasa tubuh anak saat ingin buang air, kemudian ibu juga harus mengajarkan bahasa isyarat untuk menunjukan keinganan buang air. Aku sudah mencoba memulai toilet training saat Rafa beranjak 1,5 tahun tapi aku cukup kesulitan karena dia baru mampu bicara setelah usianya 20 bulan. 

2. Shounding Anak, Bahwa Tempat untuk Buang Air Adalah di Kamar Mandi

Saat mengajak anak ke kamar mandi, selalu barengi dengan memberikan pesan bahwa tempat untuk buang air adalah di kamar mandi. Katakan "Adek kalau pipis atau eek tempatnya di kamar mandi ya jadi rumahnya tetap bersih" atau dengan pesan positif lain yang tidak mengancam. 

Hal tersebut dimaksudkan agar anak tidak hanya sekedar terbiasa dengan rutinitas buang air di kamar mandi tetapi juga mengerti tujuan dari semua itu.  

3. Komiteman Orang Tua dan Rutin Mengajak Ke Kamar Mandi

Anak adalah manusia kecil yang tidak dapat secara instan memahami dan mengerjakan perintah. Untuk mencapai sesuatu harus dimulai dari nol dan terus menurus dilatih setiap saat. Terkadang memang melelahkan mengajak anak belajar buang air di kamar mandi maka dari itu perlu adanya komitmen dari orang tua untuk selalu mendampinginya belajar meskipun itu melalahkan dan membosankan.

Kesabaran orang tua juga harus ditingkatkan pada tahap pembelajaran ini. Sedikit mengeluh jika tumpukan pakaian kotor semakin bertambah menumpuk tidak masalah tapi jangan terus terusan ya bu. Bersabarlah jika harus mencuci bekas ompol setiap hari. Ibu juga harus rutin mengajaknya ke kamar mandi setiap satu atau dua jam sekali untuk memahami ritme buang air si kecil.

Kerjasama antara ayah, ibu dan pengasuh juga penting agar anak dapat menerima pesan yang sama sehingga dia tidak kebingungan. Kebetulan aku adalah ibu bekerja yang dalam keseharian mempercayakan anak kepada pengasuh jadi aku selalu mengkomunikasikab dengan pengasuh agar rutin mengajak ke kamar mandi tiap dua jam sekali serta sering-sering menawari anak untuk pipis.

Selain sabar dan saling bekerja sama, ayah, ibu ataupun pengasuh harus telaten jika bentar2 mengantar dan menemani anak di kamar mandi. 

4. Lengkapi Perlengkapan Toilet Training

Untuk mempermudah proses toilet training alangkah baiknya jika ibu melengkapi peratalan seperti potty seat atau training pants

Potty seat berfungsi untuk mempermudah anak dalam proses toilet training karena WC jongkok ataupun duduk yang ada di rumah ibu tidak didesain untuk kebutuhan balita dengan tubuh yang mungil itu. Anak akan lebih nyaman jika bisa duduk atau jongkok di potty seat yang sesuai dengan ukuran tubuhnya.

Training pants juga diperlukan jika ibu tidak ingin terlalu sering ngepel atau takut anak kepleset saat dia terlanjur ngompol dan membasahi lantai. Training pants tidak sama dengan popok yang dapat menyerap cairan tetapi cukup untuk mencegah kebocoran sebelum ibu mengantar ke kamar mandi.

5. Berikan Pujian Jika Anak Berhasil Buang Air di Kamar Mandi

Jika anak ibu telah mampu bilang "pipis" saat menginginkannya dan berhasil buang air di kamar mandi maka berikanlah dia reward berupa pujian kecil sebagai wujud apresiasi ibu atas prestasinya. Anak akan bangga dan senang sehingga dia akan mengulangi prestasi itu. "Wah adik pintar sekali sudah bisa pipis di kamar mandi", misalnya.

***

Okey, itulah tips yang dapat aku sharing terkait toilet training. Semoga dapat bermanfaat dan tentunya anak-anak ibu bisa segera lulus toilet training sehingga anggaran untuk beli diapers dapat dialihkan kepada kebutuhan si kecil yang lain.

Happy toilet training kids !
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Regards
Yennys

  • Share:

You Might Also Like

3 komentar

  1. Peer banget ni buat aku..anakku udah 4 tahun msh blm bisa TT
    Makasi ya mba tips2nya

    ReplyDelete
  2. Anakku belum bisa nih mbak pipis or pup di toilet, soalnya akunya jg nggak konsisten sih hahaha tapi insyaallah akan aku coba terus

    ReplyDelete
  3. ntar klo adek udah segede gini mau di ajarin lah

    ReplyDelete