Rafa Said Goodbye to His Milk Bottle

October 23, 2018
Assalamualaikum Wr. Wb.

Sudah lama aku mencoba sounding Rafa untuk beralih dari botol dot ke gelas sebagai media minum susu. Bahkan pernah bikin perjanjian kalau sudah umur 3 tahun berhenti ngedot, tetapi janji itu ternyata hanya sekedar janji yang di "iyakan" saja. Dia tetap nyaman minum susu dengan dot karena bisa sambil tiduran. Itu posisi paling nyaman baginya.

Hari pertama tanpa botol susu (14 Oktober 2018)
Pernah juga aku membuat olok-olok ke Rafa dengan kata "Arrafa pong-pong" atau "Arrafa dot-dot" dengan harapan dia malu dan meninggalnya botolnya. Berkali-kali juga aku membandingan dengan anak-anak lain. Aku bilang si A, si B sudah tidak ngedot lagi dan berbagai perbandingan lain. Aku sadar ini gak ada dalam kamus parenting. Beneran aku merasa jadi ibu yang gagal karena aku sadar telah melakukan kesalahan terbesar dan melukai perasaan anakku dengan perkataan-perkataan itu. Ibu-ibu jangan ada yang seperti aku ya, karena pasti masih banyak kata-kata yang patut dilontarkan.

Baca juga : Pentingnya 1000 Hari Kehidupan untuk Tumbuh Kembang Anak

Well, waktu terus berlalu kebiasaan minum dengan botol ini tak pernah berkurang bahkan lebih mendominasi dalam aktivitas kesehariannya. Dia jadi enggan makan, enggan minum air putih dan yang jelas keuangan kami semakin terporak porandakan karena habis untuk membeli susu bubuk. Sabar-sabar, ya aku terus mencoba untuk menenangkan diri dengan mempercayai kata orang-orang terdekat bahwa nanti pasti ada masanya Rafa berhenti minum susu pakai botol. 

Kemudian adiknya lahir, yang namanya bayi kan memang kerjaannya cuma nyusu kan ya? Dan mulailah Rafa berulah,  adiknya nyusu dia juga minta dibikinkan susu, begitu terus selama seharian. Sehari adeknya nyusu 8 kali dia juga mau 8 kali. Pernah kita hanya di rumah bertiga (ibu, Rafa dan si bayi) dan aku benar-benar kewalahan karena Rafa menunjukkan sikap iri luar biasa. Dia menunjukannya dengan seolah-olah memintaku memperlakukannya seperti adeknya. Aku benar-benar sebal dengan sikapnya. Kenapa anak ini jadi sangat manja dan susah diatur. Tiap hari kerjaannya nangis dan nangis selebihnya ngedot.

Sejak kehadiran adeknya itu, aktivitas nyusunya semakin menjadi-jadi. Botol susu adalah sumber kenyamanannya. Menjadi sebuah habit yang benar-benar menjijikan jika diteruskan karena dia mampu mengempeng botol susu yang sudah kosong sekalipun selama berjam-jam.  Dia gak jijik sedikitpun meski karet dotnya jadi sangat bau. 

Marah tiap kali diminta menyudahi ngempengnya. Marah, marah dan tantrum kerjaanya. 

"Masih boleh nyusu pakai dot tapi kalau susunya sudah habis segera ditaruh di tempat cucian, jangan diempeng terus" Ini kata-kata yang tiap hari aku ucapkan untuknya. Namun hanya dianggap sebagai angin lalu. Jujur aku sangat khawatir dengan perkembangannya tapi aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Dia tidak mengerti dengan nasehat, yang dia tahu jika aku melarangnya artinya aku tak menyayanginya. Berat memang jadi orang tua.

Yah, itulah apa yang kami alami. Cerita kami dengan si botol susu sebelum akhirnya botol-botol tak berdosa itu aku simpan untuk selama-lamanya. Ini bukan berarti aku sukses menyapihnya dengan cinta sampai akhirnya dia bisa berlenggang sambil say good bye sama si botol sapi (iya, dia nyebutnya botol sapi karena ada gambar sapinya).

Tidak juga lebih sukses dari pada saat menyapihnya ASI. Kali ini aku masih tega menggunakan cara "kekerasan" karena aku benar-benar sudah muak dengan si botol.

Baca juga : Ekspektasi VS Realita dalam Menyapih Rafa

Suatu malam saat dia selesai minum susu dan terus saja mengempeng botolnya yang sudah kosong itu berjam-jam tiba-tiba aku kesetanan dan serta merta merebut botol itu dari mulutnya. Aku merampasnya paksa. Kucari gunting besar dan berencana memotong karet dotnya. Aku murka, aku marah, aku benci dengan kebiasaan itu !

Sayang gunting yang akan jadi alat bukti itu tak kutemukan, akhirnya aku keluar kamar dan membuang karet dot iblis itu ke tong sampah. Ya, setan terbahak menang karena melihat seorang ibu  telah melukai hati anaknya. Lagi-lagi setan menang ! Diikuti jerit tangis Rafa. Tangis yang menyayat hati. Ah lebay ya kata-katanya hehehehe

Sejak kejadian malam itu semua berjalan normal kembali setelah kami berdua saling memaafkan. Aku memberikannya hadiah gelas sedotan hohoho. Gelas yang dulu pernah aku tawarkan dan tidak sedikitpun dia lirik kini menjadi temannya melepas dahaga. Akhirnya dia bisa. Aku tau sebenarnya dia patah hati (seperti saat dua sejoli yang sama-sama cinta kemudian tidak direstui) tapi sekarang atau nanti ini pasti akan terjadi. Siap atau tidak kamu harus menghadapinya nak.

Sekarang dia hanya munim susu 2 sampai 3 kali sehari selang-seling antara susu bubuk dan susu kotak (UHT). Frekuensi nyusu yang berkurang ini ternyata mempengaruhi nafsu makannya. Susu sudah tidak lagi menjadi pelarian saat perutnya lapar. Konsekuensinya aku harus selalu siap sedia camilan/snack yang mengenyangkan.

Sebagai upayaku untuk menebus kesalahanku karena telah melukai hati dan perasaan anak sekecil Rafa maka aku selalu memberikan pujian tiap kali dia slesai minum dengan gelasnya. Memujinya sebagai anak hebat, anak sholeh kesayangan ibu. 

Semoga kamu tumbuh menjadi anak yang hebat dan sholeh !

Waalaikumsalam Wr. Wb.

No comments:

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan pesan, senang dapat sharing dengan Anda :)

Powered by Blogger.