Perjalanan dalam Mendapatkan Gelar S1 ASIX

August 14, 2018
Assalamualaikum Wr. Wb.

14 Februari 2018 - 14 Agustus 2018. Alhamdulillah syukurku tiada henti karena pada akhirnya perjuangan mengASIhi Arka sudah melalui satu step. Ya, tepat pada hari ini dengan bangga aku mendeklarasikan bahwa Arkana Zayn Akbar sudah lulus ASI Eksklusif dan siap untuk belajar pada tahap selanjutnya yaitu makan. Yeyyyy ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ


Pada blogpost kali ini khusus aku tujukan untuk merangkum perjalanan kami selama 6 bulan terakhir. Seperti yang telah aku ceritakan dalam blogpost sebelumnya tentang kisah manis kelahiran Arka, dia lahir dengan sehat tanpa kekurangan satu apapun. Meskipun lahir melalui proses sesar tapi kami masih sempat melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) walaupun hanya beberapa menit saja. Enam jam setelah kelahirannya dan setelah aku sadar dari efek anestesi kami memulai apa yang disebut sebagai perjuangan yaitu menyusui. Aktivitas yang pernah aku lakukan saat kelahiran Rafa kini terulang kembali. Rasanya beda. Proses menyusui kali ini rasanya lebih mudah meskipun nyeri di bagian perut dua kali lipat sakitnya saat kelahiran Rafa. 

Bayi gembul, putih dan lembut ini sangat pintar, dia langsung lihai menyusu, aerola masuk sempurna ke mulut mungilnya. Pelekatan sempurna dan pengalaman menyusui yang menyakitkan seperti dulu tidak lagi terulang. Puting lecet dan berdarah tak lagi aku alami. Good job baby. Aku sombong waktu itu. Aku terlalu meremehkannya menganggap ini terlalu mudah. Aku congak, aku lupa bersyukur kepada Tuhan. Aku merasa ini adalah sepenuhnya usahaku, aku lupa bahwa Allah satu-satu dzat yang memberikan segala nikmat dan kemudahan.


Aku sibuk memamerkan bayi ganteng ini ke semua teman-teman, hampir semua feed dan instastory sosial mediaku isinya muka cubby Arka. Semua berjalan baik-baik saja. 

Empat hari di Rumah Sakit akhirnya kami diperbolehkan pulang bersama. Sampai di rumah, semua juga berjalan baik-baik saja. Rafa verry happy lihat adeknya untuk pertama kali. 

Aku pikir proses menyusui tak akan pernah menemui drama, karena aku sudah pintar, aku sudah tau ilmunya. Ya, sekali lagi aku masih sanggup bersombong ! Hingga pada saatnya checkup pertama ke Dokter Spesialis Anak, dan drama mengASIhi itu mulai nampak. "Loh, kok kuning sekali", begitu komentar dokter saat aku melangkah masuk ke ruang prakteknya sambil menggendong Arka. Benar saja, setelah cek darah ketahuan kalau bilirubinnya tinggi sampai di angka 16 mg/dL. Arka harus di fototerapy 2 x 24 jam untuk menurunkan kadar billirubin. Sementara aku harus menyediakan ASIP minimal 65 ml setiap 2 jam (bayi yang kuning butuh asupan ASI lebih banyak). Aku bingung mencari donor ASI, kontak kesana sini mencari informasi donor ASI namun tak mendapatkan hasil. Aku mulai pesimis ๐Ÿ’”

Keadaan pahit ini akhirnya harus aku hadapi meskipun sebenarnya masih tidak percaya. Kenapa Arka kuning? padahal dia pintar menyusu? Kenapa Arka kuning padahal dulu Rafa enggak? Kenapa? Kenapa? Aku baru ingat Tuhan, aku ingin meminta penjelasannya. Kenapa Dia menakdirkan bayiku kuning? Aku sedih, aku kuwatir, aku ingin bayiku kembali sehat tapi lagi-lagi egoku kembali muncul. Aku mau Arka jadi bayi ASI Eksklusif apapun keadaannya, aku tidak mau dia mencicipi susu formula di awal kehidupannya. Meskipun kuning, aku tidak akan memberikannya tambahan susu formula. Aku jahat! Tidak! aku sayang padanya! Bukan untuk mendapatkan sertifikat ASIX dari AIMI tapi aku ingin memberikan yang terbaik untuknya. Aku ingin lebih baik dalam memberikan ASI, tak mau sebodoh saat Rafa bayi (maafkan ibu ya mas Rafa, kamu tidak seberuntung adikmu yang bisa full ASI).

Baca juga : Pengalaman Menyusui Rafa

Perawat menawarkan untuk menambah susu formula, tapi aku bersikeras hanya ASI saja. Aku akan memperjuangkannya. Keputusan ini sangat didukung suami, dia rela tengah malam mengantarkan ASIP ke Rumah Sakit meskipun hanya 50 ml saja. Jam 12 malam dia harus membelah kota meluncur mengantarkan ASIP, pulang lagi menungguku pumping kemudian jam 3 pagi kembali mengantarkannya. Semalam bisa bolak- balik rumah dan Rumah Sakit berkali-kali. Bagiku itu adalah support yang tak pernah mampu dihitung berapa nilainya. 

Setelah 48 jam di fototerapy akhirnya billirubin turun ke angka 9 ml/dL. Bayi boleh di bawa pulang, harus disusui sesering mungkin. Begitu pesan Bu dokter.

Setelahnya ternyata masih banyak drama-drama yang harus kami hadapi. Sampai usia satu bulan lebih kulit dan mata (bagian putih) Arka masih terlihat semburat kuning. Aku stress, aku kalut, sering sekali nangis. Baby blues mungkin. Oh tidak ! Aku beriman (memang yang baby blues tidak beriman? Minta di lempar bata nih sama praktisi-praktisi MotherHOPE Indonesia ๐Ÿ˜ฉ). Mendapati keadaan seperti itu sebagai mom jaman now tentu saja aku langsung ketemu DSA, curhat dan mengeluh. Syukurnya Bu dokter bisa menenangkan kegalauanku.Ternyata semuanya masih normal. Alhamdulillah.

Perjalanan mengASIhi masih lanjut namun drama kembali menghampiri kami. Usianya belum genap tiga bulan tapi Arka harus menderita pneumonia. Hal yang semakin membuatku tak berdaya karena dia tidak mampu menyusu dari payudara langsung, melalui media dot juga tak mau. Dia harus pasang NGT, dan aku wajib kejar stok ASIP minimal 80 ml setiap 2 jam sekali. Aku benar-benar seperti sapi perah yang terus di push untuk menghasilkan susu. 


Setelah sembuh dari pneumoniapun drama tak kunjung beranjak. Dia masih setia menemani perjalanan kami. Arka jadi malas menyusu. Bukan bingung puting karena dia tak ngedot atau ngempeng, masih mau menyusu tapi memang frekuensinya berkurang, minum ASIP juga tidak nafsu. Hal ini tentu saja mempengaruhi perkembangannya. Selama sebulan pasca sakit berat badannya hanya naik 100 gram. Sedih sekali bukan.

Aku konsul sana sini mencari pencerahan, hingga akhirnya aku mengalah dan menyerah pada sendok. Aku mengalah dan bersabar dengan tlaten memberikan ASIP menggunakan sendok. Menyuapi ASIP dengan sendok ini aku lakukan setelah dia selesai menyusu langsung dari payudara. Dilakukan untuk menambah kuantitas ASI yang masuk. Itu semua tentu saja demi mengejar ketinggalan berat badannya. 

perjuangan ini masih terus aku lakukan sampai sekarang. Tak apa, aku rela melakukan apapun karena tak kan pernah ada usaha yang mengkhianati. Sekarang Arka kembali tumbuh ginuk-ginuk menggemaskan dengan toga S1 hehehehe.

Bu ibu pembaca ada sarankah media pemberian ASIP yang tepat untuk bayi 6 + bulan itu apa? Aku ingin Arka lebih mandiri lagi.

Happy meals Arka, ibu love u so much ๐Ÿ˜˜

Waalaikumsalam Wr. Wb.

1 comment:

  1. semangat mbaa.. semua busui adalah pejuang :) insyaallah kita panen di masa depan. anakku yang ASI sampai 20 bulan, alhamdulillah sehat dan aktif sekali :D

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan pesan, senang dapat sharing dengan Anda :)

Powered by Blogger.