Kisah Manis Kelahiran Arka

March 03, 2018
Assalamualaikum Wr. Wb.

Katanya sih bulan Februari itu adalah bulan yang sangat istimewa bagi sebagian besar orang. Bulan Februari juga dianggap penuh kasih sayang, bulannya yang paling indah bagi pasangan yg dimabuk cinta. Semua itu gak lain karena pada pertengahan bulan ini dirayakan sebagai hari valentine yang sering diartikan sebagai hari kasih sayang, tepatnya tanggal 14 Februari. Memang sih ini masih menjadi pro dan dan kontra oleh sebagian kalangan.


Hmmm tulisan dalam blogpost ini sebenarnya gak ada kaitannya dengan hari valentine, hanya saja bertepatan dengan hari itu aku menyambut tamu agung yang luar biasa. Dia adalah putra keduaku yang lahir tepat tanggal 14 Februari 2018 kemaren. 

Alhamdulillah bayi mungil yang aku tunggu-tunggu selama ini lahir juga meskipun mlalui jalan yang tidak natural. Bayi laki-laki yang telah memporak porandakan perasaan, emosi dan jiwaku ini memilih untuk dilahirkan melalui operasi sesar setelah gagal induksi selama kurang lebih 8 jam. 

Kalau ditanya kenapa sesar, tentu saja karena emergency. Ibu mana sih yang gak kepengen lahiran normal pervaginal, semua pasti menginginkannya termasuk aku karena dulu pas nglahirin Mas Rafa juga berhasil secara normal. Aku sudah berupaya semampuku untuk bisa kembali merasakan setiap detik gelombang cinta kontraksi menjelang persalinan seperti yang pernah aku rasakan 3 tahun lalu. Rasa mulas yang selalu aku harapkan segera muncul setelah usia kehamilanku memasuki 39 minggu ternyata tak kunjung datang sampai usianya mendekati 41 minggu masih saja anteng. Padahal aku sudah berusaha banyak jalan, jongkok, yoga, dan makan makanan yang dianggap dapat mempercepat proses persalinan seperti buah kurma dan nanas.

Memberdayakan diri untuk bisa melalui persalinan dengan gentle birth juga sudah aku upayakan termasuk mendalami materi hypnobirthing namun semua keputusan kembali kepada sang pemilik kehidupan. Apapun proses persalinan yang aku lalui, sungguh menjadi sebuah perjuangan yang luar biasa sampai pada titik rasa syukur yang tiada terkira saat suara tangis jabang bayi itu pecah.

Terakhir kalinya jadwal kontrol dengan dokter Dimas adalah tanggal 14 Februari 2018 pagi yang merupakan Hari Perkiraan Lahir (HPL). Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa prestasi janin bagus karena posisinya sudah masuk panggul dan siap dilahirkan, target berat janin juga memenuhi yaitu sudah 3100 gram, tetapi ada beberapa permasalahan yang membuat dokter memutuskan agar bayi segera dilahirkan. Permasalahan itu antara lain adanya lilitan tali pusat tepat dileher bayi, plasenta yang mulai menua dan mengalami pengapuran serta volume air ketuban yang menipis dan mulai keruh.

Sebagai orang awam yang tidak terlalu mengerti dunia medis akhirnya aku dan suami menyepakati saran dokter untuk dilakukan intervensi berupa induksi agar proses persalinan lebih cepat. Dokter segera membuatkan surat pengantar untuk rawat inap hari itu juga.

Perawat mengantarkanku ke ruang IGD (karena aku pakai asuransi BPJS) dengan memakai kursi roda. Sebenarnya sih aku masih pengen jalan sendiri karena memang aku masih mampu tapi perawat melarangnya. Aku berusaha tersenyum dan menunjukan sirat kebahagiaan untuk menyambut buah hati tapi entah kenapa aku melihat mata sembab milik ibuku. Kenapa beliau menangis?

Sambil menunggu suami menyelesaikan berbagai administrasi, aku dibawa ke ruang VK (bersalin), diberikan pakaian khusus pasien, dilakukan VT (Vaginal Touch) untuk cek pembukaan yang ternyata sudah bukaan 2 cm, kemudian dipasangkan infus berisi cairan induksi. Aku sudah tidak diijinkan beranjak dari kasur karena takut ketuban keluar makin banyak. Pipispun aku harus pakai pispot. Saat itu jam menunjukan pukul 14.30 WIB.

Waktu terus berjalan, cairan induksi dalam infuspun terus menetes dan hampir habis namun rasa mulas khas kontraksi itu tak kunjung datang juga. Berkali-kali perawat memantau detak jantung janin melalui mesin doppler hingga yang terakhir menunjukan bahwa bayi dalam perutku mulai stress ditandai dengan detak jantungnya yang melemah sampai 100 dpm. Perawat bergegas melakukan CTG dan hasilnya sama, ada posisi dimana detak jantung janin melemah tetapi kontraksi flat.

Hasil pantauan itu kemudian dilaporkan kepada dokter dan katanya bayi tidak kuat dengan intervensi yang dilakukan, untuk menyelematkannya maka harus segera dilakukan operasi sesar.  Ya Tuhan satu hal yang sama sekali tidak kuharapkan ini sekarang harus aku hadapi. Sekitar pukul 22.00 WIB aku dipersiapkan untuk operasi dan diantar ke ruang bedah.

Rasanya aku tidak siap yang aku bisa hanya pasrah. Terpenting adalah keselamatan bayiku dan tentu saja keselamatanku sendiri. Setelah melalui berbagai prosedur operasi sesar akhirnya tepat pukul 22.14 WIB dokter Dimas mengelurkan bayiku dari perut buncit ini. Subhanallah tangisnya langsung pecah saat dokter melepaskan lilitan tali pusat di lehernya. Bayi yang gemuk dengan berat 3630 gram itu kemudian dibersihkan sebentar dan ditempelkan di dadaku untuk IMD. Rasa cinta diantara kami berdua membuncah mengalahkan segara rasa sakit dan takut.

Bayi sehat yang membuatku berkali-kali jatuh cinta ini kami beri nama ARKANA ZAYN AKBAR.

Waalaikumsalam Wr. Wb.

3 comments:

  1. Wah selamat ya Mba! Semoga Arka tumbuh menjadi anak yang sehat lahir batin ^^

    ReplyDelete
  2. Good story.
    Selamat ya Bun.
    Semoga Ananda Arka tumbuh sehat dan menjadi anak yang saleh.
    Aamiin . . .

    ReplyDelete
  3. Welcome dedek bayi...semoga tumbuh jadi anak yang sholeh ya. Jadi penyejuk mata dan hati ayah dan bunda...

    Sabar bun, gak usah dengerin ocehan orang-orang tentang lahiran normal atau caesar...kita yang ngalami, kita yang tau.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan pesan, senang dapat sharing dengan Anda :)

Powered by Blogger.