[#2ndPregnancyJourney] Flek dan Vaginal Bleeding Pada Minggu Ke-5

April 27, 2017
Assalamualaikum Wr. Wb.

Sebelum meneruskan membaca tulisan ini alangkah baiknya jika mommies berkenan juga membaca  tulisanku mengenai second pregnancy journey yang sebelumnya. Niatnya di tulisan ini aku akan sedikit curhat tentang kelanjutan perkembangan kehamilanku.


Flek dan Vaginal Bleeding Pada Minggu Ke-5

Mungkin mommies sudah bisa menebak apa yang akan aku ceritakan pada tulisan ini dengan sedikit mencerna judulnya. Ya, itu memang benar adanya, pada kehamilan ini aku sedikit mengalami sebuah masalah serius. Pada tanggal 24 Maret 2017 aku telah berkunjung ke Spog A di Rumah Sakit A tempat dimana dulu aku rutin konsul saat kehamilan anak pertama. Dan pada kehamilan kedua ini aku pertama kali memeriksakan kehamilan dengan dokter yang sama namun aku sedikit kurang sreg dengan dokter ini karena selain antriannya panjang juga cara memeriksanya yg terkesan tergesa-gesa.


Finally, pada tanggal 4 April 2017 aku dan suami mencoba konsul dengan Spog B di Rumah Sakit B. Berdasarkan beberapa review yang di share oleh ibu-ibu di Solo katanya dokter ini recomended. Seperti halnya prosedur pemeriksaan di Obgyn pada umumnya, aku dipersilahkan berbaring untuk dilakukan pemeriksaan USG. Pada pemeriksaan ini Alhamdulillah hasilnya so far so good, GS positif dengan usia kehamilan 5 minggu. Tetapi ada satu hal yang membuatku agak kepikiran yaitu karena adanya sedikit keterlambatan perkembangan. Seharusnya waktu itu usia kehamilanku sudah 6 minggu jika dihitung dari hari pertama terakhir haid. 

"Jangan stres ya bu dan banyak-banyak berdoa", begitulah kira-kira kata dokter B waktu itu. Beliau tetap memberikan motivasi positif dan meresepkan beberapa asam folat dan tablet penambah darah. Beliau juga menyarankanku untuk banyak memgkonsumsi makanan bergizi seperti buah-buahan dan sayur-sayuran. 

Pasca berkunjung dengan dokter B aku tetap kepikiran dengan kondisi kehamilanku, apalagi ada indikasi keterlambatan perkembangan. Pikiran macam-macam tentang dampak vaksin Meningitis terhadap perkembangan janin tetap berkeliaran di otakku. Terkadang aku juga sedikit stres kenapa seolah-olah hamil disaat yang kurang tepat. Harusnya aku bisa fokus mempersiapkan keberangkatan ibadah Umrah tapi sekarang terancam gagal karena kehamilan ini. Perasaanku benar-benar berkecamuk meskipun suami dan orang tua tetap memberikan support dan terus mengingatkanku untuk banyak berdoa dan berserah diri kepada sang Pencipta. 

Weekend diminggu pertama bulan April itu aku habiskan waktu dirumah memgasuh si kakak yang aktifnya bukan main, tetapi sejak hari Jumat sampai Minggu aku mendapati adanya flek berwarna coklat tua di celana dalamku. Duarrr.... aku benar-benar panik melihat kondisi ini. Kondisi seperti ini, sama persis yang dialami oleh beberapa ibu di forum ibu hamil. Mereka juga melakukan vaksin Meningitis diminggu pertama kehamilan. Mereka akan mengalami flek, pendarahan dan berakhir pada keguguran. Ya Allah aku semakin stres mengahdapi ini semua.

Senin pagi, seperti biasa aku selalu mengecek kondisi celana dalam tiap kali kekamar mandi. Alhamdulillah pagi itu celanaku bersih. Ada energi positif yang kembali menyiram hati dan otakku, akupun berangkat ke kantor dengan kondisi yang lebih baik. 

Di kantor aku tak banyak beraktivitas, hanya duduk di balik meja dan sesekali berjalan menghampiri meja pegawai caraka untuk mengantarkan berkas yang musti dikirim ke unit lain. Menjelang siang rasanya perutku mulas dan seperti kebelet BAB. Akupun ke toilet dan saat aku jongkok ternyata justru darah segar mengucur dari jalan lahirku. Darah yang keluar cukup banyak dan membuatku begitu panik. 

Hari itu aku benar-benar ketakutan dan merasa sendiri. Semua teman kantor sedang repot dengan pekerjaannya masing-masing sementara suami sedang bertugas diluar kantor. Oh my God, aku sungguh panik kala itu. Dengan sisa-sisa tenaga aku berusaha bangkit sendiri untuk segera menemui dokter spog di Rumah Sakit. Sebelumnya aku memesan taksi untuk mengantarkanku. 

Suamiku, dia pun ikut panik dan segera menghampiriku ke Rumah Sakit. Sesampainya aku masih harus antri beberapa nomor, but its ok aku masih bisa menahan rasa mulas. Setelah dipanggil perawat aku segera masuk ke ruangan dokter dan segera dipersilahkan berbaring untuk di USG. "Ini mau keguguran bu" begitu kata dokter setelah mengamati gambar hitam putih dilayar alat USG.  Kemudian dokter menyaranku untuk menjalani badrest serta memberikan resep yang harus aku tebus. Obat yang harus aku tebus itu adalah Utrogestan.

Dunia rasanya mau runtuh mendengar statement dokter begitu. Rasanya lebih sakit dari pada rasa mulas yang sedari tadi aku tahan. Hufhhh aku harus pulang dengan perasaan kacau dan langkah lunglai, beberapa kali terasa gemetaran. Dokter memintaku kembali seminggu kedepan dan selama itu aku benar-benar harus badrest. Ya, selama seminggu aku hanya berbaring diatas kasur dan sesekali bangkit untuk kekamar mandi atau untuk sholat. Aku berusaha menuruti semua perintah dokter meski terkadang terpaksa menggendong si kakak yang sedang menangis karena tidak ingin ditinggal ayahnya. 

Seminggu itu aku justru merasa sangat sedih, aku merasa gagal menjaga janinku, aku merasa kecewa karena kemungkinan rencana ibadah Umrahku akan gagal, aku merasa bersalah kepada kakak karena saat dia membutuhkan ibunya tapi aku tak bisa berbuat apa-apa dan serentetan perasaan kacau lainnya. 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

No comments:

Powered by Blogger.