Tahan Komentar-Komentar ini Kepada Ibu yang Baru Melahirkan ! Jangan Memicu Baby Blues Syndrome

October 05, 2016
Assalamualaikum Wr. Wb.

Beberapa hari belakangan ini baik di media televisi maupun media sosial banyak dipenuhi dengan topik pemberitaan tentang seorang ibu yang tega membunuh dan memutilasi anak kandungnya. Kasus pembunuhan anak oleh ibu kandungnya sendiri kembali lagi menggegerkan jagat Indonesia. Seorang ibu yang terkenal pendiam, baik dalam pergaulannya dan terlihat tidak pernah mempunyai masalah ternyata menjadi dalang dalam sebuah kasus kejahatan. Jujur aku bukanlah orang yang berani untuk membuka dan melihat kisah-kisah keji semenyedihkan itu tapi kali ini aku mencoba memberanikan diri membaca beberapa judul yang memberitakannya. Terus mencoba mengklik tautan-tautan berita serupa hingga menyeretku pada kasus-kasus lalu yang pernah menjadi criminal news. Aku tercengang ternyata kasus-kasus pembunuhan anak oleh orang tua kandung banyak sekali terjadi.


"Kasih sayang terbesar adalah kasih sayang seorang ibu kepada anaknya" Jika untaian kata itu benar adanya lalu kenapa ada seorang ibu yang tega membunuh anaknya sendiri ?


Ibu adalah orang yang bersusah payah mengandung selama hampir 10 bulan, merasakan sakit yang luar biasa saat melahirkan dan merasakan perihnya jalan lahir dijahit. Semua itu akan terbayar sudah saat seoarang bayi mungil tengkurap didadanya, untuk pertama kali dia mencium aroma harum anaknya dan membelai lembut kulitnya yang merah. Kemudian dalam sedetik ribuan ucapan selamat akan hilir mudik ketelinganya. Sanak saudara dan tetangga kemudian berdatangan memberikan kado selamat, mereka antri dan bergantian menimang si bayi mungil.

Mereka terlalu sibuk dengan si kecil mungil tanpa memberikan apresiasi kepada sang ibu bahkan ada sebagian yang hanya sekilas menoleh ke samping dan berkomentar sekenanya pada perempuan yang tergolek lemah dalam masa pemulihannya setelah melahirkan itu. Seorang perempuan yang telah menyandang peran baru itu sebetulnya membutuhkan support besar dan perhatian selayaknya si bayi kecil mungil itu. Dia juga harus dibimbing untuk menemukan dirinya.

"Kok sesar ? pasti gak mau ngrasain sakit ya?"
Dreng...dreng...dreng... perang dimulai dengan pertanyaan singkat macam itu. Ibu mana sih yang tidak ingin menyandang status Perfect Mom dengan melahirkan normal. Semua ibu selalu berdoa memohon agar dimudahkan dalam persalinan tanpa harus melalui operasi Sectio Caesarea tetapi pada kenyataanya mereka tetap harus menjalani SC karena alasan dan pertimbangan keselamatan bayi dan ibu. Lalu dia harus menyandang status unperfect mom atau status bahwa dirinya bukan ibu yang sesungguhnya karena melahirkan secara SC. Sebenarnya siapa sih yang memulai melabeli status perfect mom bagi yang melahirkan normal dan unperfect mom untuk yang melahirkan Sectio Caesarea? Mereka tahu gak sih gimana sakitnya melahirkan SC? Bagiku semua ibu yang telah berjuang setengah mati untuk melahirkan anaknya baik secara normal vaginal atau Sectio Caesarea adalah sama-sama sempurna. Please jangan komentar dengan kalimat itu kepada ibu yang melahirkan secara SC. Kalimat singkat itu akan berdampak panjang kepada kesehatan jiwa sang ibu. Bayangkan saja belum apa-apa mereka sudah dilabeli dengan istilah yang menyakitkan hati mereka. 

Si komentator berlalu dan datang lagi yang lain, kini hadir dari teman seumuran yang kemudian bertanya dengan pertanyaan baru yang sama menohoknya

"Bayimu ASI Eksklusif kan?" 

"Kalau mau ASI Eksklusif gak boleh ditambahkan susu formula ya walaupun hanya satu botol dot diawal kelahiran karena kalo sudah ditambahkan sufor namanya udah gak ASI Eksklusif lagi"

Berawal dari ceramah teman seumuran yang juga mamah muda itu akhirnya sang ibu kepikiran dengan nasib bayinya yang sudah terlanjur diberikan susu formula karena menangis sehari semalaman atau karena sang ibu yang belum paham dengan kebutuhan ASI newborn. Penyesalan dan kesedihan kemudian menyelimuti sang ibu baru karena terlanjur menyuapi bayinya dengan susu formula. Akhirnya berakibat pada menurunya tingkat produksi ASI. Ibu sedih jauh dari kebahagiaan kemudian ASI seret, DIA SALAH LAGI !

Tahan dulu menjadi sok pintar tentang ASI saat menjenguk teman yang usai melahirkan. Lebih baik berikan kata-kata semangat yang membuat hatinya bahagia, kebahagiannya itulah yang akan membuat cucuran ASI semakin berlimpah.
 
Setelah pulang dari rumah sakitpun ternyata dia akan memasuki distrik baru seperti dalam The Hunger Games. Ibunya atau mertuanya yang selalu menuturi untuk tidak melakukan ini itu, tidak makan ini itu, harus banyak minum jamu pahit agar cepat ini itu dan bla bla bla... Perasaan semakin tertekan kala dia mendapati bayinya mulai menguning karena bilirubinnya tinggi. Belum lagi komentar ibu atau mertua yang semakin menambah depresi.

"Kamu sih makan macem-macem makanya anakmu jadi sakit begini, kalau mau bebas makan ya udah gak usah disusui biar gak sakit"


Aduh nek, anak sakit kok ibunya terus sih yang disalahkan bapaknya kek sekali-kali. Pada saat ibu mulai mengalami krisis kepercayaan diri inilah dia mulai mengalami gejala baby blues syndrome. Hei suami ini juga tanggungjawabmu ajak bicara baik-baik orang tuamu agar lebih baik dalam mengomentari menantunya. Berikan support dan kuatkan jiwa istrimu agar dia tetap waras dalam merawat keturunanmu. Jangan justru menambah rasa bersalah dan rasa lelah jiwanya karena kamu berkomentar terhadap keadaan rumah yang tak pernah rapi. Bagus-bagus kamu menggambil alih untuk menggendong si kecil dan berikan waktu buat istrimu untuk mandi dan sejenak menikmati secangkir tehnya.


Belum lagi saat istrimu menjemur bayinya didepan rumah ada tetangga lewat sambil melihat aneh kearah bayi yang sengaja ditelanjangi ibunya agar panas matahari pagi bisa mengenai seluruh tubuh anaknya. 



"Anakmu kok kurus sekali mbak? Pasti ASInya gak ada ya?"

Ada malahan yang lebih parah dari itu,

"Anaknya kurus karena gizinya diambil ibunya semua ya" 

Ini karena melihat ibunya yang badannya masih gembrot. Tolonglah bu jangan mengomentari bayi orang dengan kata "kurus", mana ada sih seorang ibu yang gak ngasih makan anaknya. Kata-kata meremehkan semacam ini justru sering muncul dari mulut kader-kader posyandu yang mengaku sebagai tenaga medis. Apa susahnya sih mengganti kata-kata menyalahkan itu dengan semangat atau saran-saran yang enak didengar.

Seorang ibu adalah perempuan yang penuh perasaan jadi please jangan guncang perasaannya demi kesehatan kejiwaannya. Ibu yang waras dan bahagia juga akan memberikan kebahagiaan kepada anak-anak dan keluarga. Cobalah untuk sekali-kali mendengarkannya dan berempati kepada kelelahannya jangan hanya terus berbicara dan menggurui.

Wassalamualaikum Wr. Wb.



12 comments:

  1. haha...

    saya pernah tuh tertohok banget sampe ga mau terima pas ada yang bilang ke anak saya, "kamu kok kurus banget sih. dikasih makan nggak sama ibumu?!"

    rasanya sakit hati banget. waktu itu.

    tapi sekarang udah ga lagi. udah paham kalo yang komen begitu belum mengerti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak pas awal memang sering baper tapi lama2 udah makin kebal hehehe

      Delete
  2. aku paling takut dan suka melow kalau baca atau lihat berita ibu yang menyiksa anaknya, beberapa waktu lalu di timeline fb juga beredar video ibu yang menutup wajah anaknya pakai bantal terus diinjak-injak

    nah, soal komentar menohok, aku ngerasain tuh
    aku lahiran SC dibilang enggak sayang anak, padahal SC karena panggul sempit dan anakku minum ASI campur sufor dibilang masukin penyakit ke anak. dan bal balaaa
    awalnya sih baper, berasa gagal jadi ibu
    tapi karena udah kebiasaan yaudah, aku mah bersyukur ajah dipercaya Tuhan jadi ibu, soalnya ada teman dan saudara yang udah lama nikah tapi belum dikaruniai anak

    yang penting anak sehat dan senang, emaknyapun tenang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mak miris banget kalo denger/liat berita2 macam itu jadi langsung pengen peluk anak...
      wajar sih aku dulu awal-awal juga sering baper kalo ditakain macem-macem tapi makin kesini makin kebal hehehe

      Delete
  3. Hai juga mas,
    ya begitalah perempuan lebih unggul perasaannya walaupun gak semua perempuan begitu tapi sebagian besar memang baperan dan gampang kepikiran

    ReplyDelete
  4. Ibu melahirkan sesungguhnya butuh support dr orang terdekat dan lingkungan agar tetap sehat jiwa raga. Karena menjadi Ibu meskipun alamiah tetap tidak mudah apalagi jika si ibu mengalami baby blues. Kalau tidak ditangani dg baik ya akhirnya jadi post partum depresion. Akibatnya ya, kayak diberita itu.
    Sedih, karena banyak yg belum menyadari bb dan ppd.

    ReplyDelete
  5. Sayang nya ngga semua orang baca tulisan bagus seperti ini ya mba. Ini penting banget menurut aku, jangan cuma menyalahkan tapi alangkah baik nya kalo didukung atau sukur2 dibantuin ngurus anak nya. Hehe ��

    ReplyDelete
  6. Hmm yang namanya ibu kdg jd tong sampah tempat pelampiasan orang ysng nyinyir. Ada aja yang suka bikin si ibu tersinggung. Eolusinys kdg kita hrs ndableg. Ngga usah digagas ya yang penting kita sdh maksimal ngurus anskk dan keluarga

    ReplyDelete
  7. Haha bener banget kita kudu tahan sama omongan kayak gitu.

    ReplyDelete
  8. banyak yang harus di perbaiki, terutama mindset tentang komentar-komentar gak perlu gitu ya...kalau pada akhirnya hasilnya membuat orang lain stress dan menangis..

    ReplyDelete
  9. pernah mengalaminya...jadi tau banget deh

    ReplyDelete
  10. Beberapa point saya mengalaminya, dan sampai sekarang, saya masih suka mengalami naik turun secara emosi. Karena masih adaaa saja yang dibandingkan. padahal anak saya sudah 2 dan 5 tahun :(

    ReplyDelete

Powered by Blogger.