Semua Working Mother Punya Alasan

By yeni susanti - 15:42:00

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sampai saat ini masih banyak sekali sering terjadi perdebatan antara Working Mother vs Stay at Home Mother apalagi jika kita membuka sosmed pasti masalah serupa akan sering bertebaran di wall kita. Lalu apakah dipostingan saya ini juga akan beradu argument tentang hal itu? Enggak sama sekali :) Saya hanya ingin sedikit bercerita mengenai alasan saya memilih sebagai working mother dan berusaha untuk tidak membuat pembenaran "Kenapa saya memilih bekerja".


Suami Mengijinkan.
"Siapa saja perempuan yang keluar rumahnya tanpa ijin suaminya dia akan dilaknat oleh Allah sampai dia kembali kepada suaminya atau suaminya ridho terhadapnya" (Riwayat Al Khatib). Sejak awal sebelum menikah saya sudah bekerja dan setelah menikahpun suami saya masih memberikan kebijakan kepada saya untuk tetap bekerja. Semoga saja ijin dan ridhonya bisa menjadi jalan bagi saya untuk tetap meraih surga Allah. Saat ini, saya dan suami bekerja di instansi yang sama namun berbeda satker, sehingga saya tetap bisa menghabiskan waktu bersama suami (berangkat, pulang dan saat jam makan siang) hehehe... Kebetulan saya tinggal tak jauh dari tempat kerja hanya sekitar 5 menit jadi saat jam istirahat lebih sering saya pakai untuk pulang sejenak melihat kondisi anak yang dirumah bersama mbaknya. Selain itu suami saya juga mengenal rekan-rekan kerja saya jadi insyallah kepercayaan antara kami akan tetap terjaga. Suami juga hidup dilingkungan keluarga dimana sebagian besar wanita ikut bekerja.

Membantu suami mencapai cita-cita
Saya percaya dengan janji Allah bahwa "istri dirumah ataupun istri bekerja rejeki akan tetap 100%". Akan tetapi yang namanya manusia itu terkadang tidak ada puasnya banyak cita-cita dan keinginan yang dikejar. Dengan bekerja paling tidak saya bisa membatu suami untuk melangkah mewujudkan rentetan cita-cita tersebut. Cita-cita pengen punya rumah sendiri, punya kendaraan pribadi, punya tabungan haji, punya tabungan pendidikan anak, bisa jalan-jalan keliling Indonesia atau ke luar negeri,  dll.

Tetap menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga
Kalau yang ini saya juga tidak janji bisa mulus selamanya, setiap usaha pasti ada-ada saja yang merintangi. Saya working mother dengan satu balita usia 1.5 tahun dan meninggalkannya bersama mbaknya dirumah sementara saya pergi bekerja. Saya tidak semerta-merta meninggalkannya begitu saja tanpa menyiapkan keperluannya sehari-hari. Sebelum berangkat bekerja saya berusaha menyiapkan MPASInya, sebisa mungkin homemade masakan saya sendiri (meskipun saya bukan anti makanan instans loh). Alhamdulillah anak saya sudah makan menu keluarga jadi saya bisa sekalian masak untuk suami dan ibu mertua (kalo ibu mertua tidak selalu, beliau lebih suka beli sayur dan lauk matang yang mungkin sesuai dengan selera beliau .red : masakan saya masakan bayi, gak enak booo). Walaupun bekerja saya tetap getol memberikan ASI Eksklusif 6 bulan dan lanjut insyallah sampai 2 tahun. Sementara untuk urusan kantor sebisa mungkin dapat saya selesaikan walaupun masih terlalu sering saya terlambat absen hehehe #maaf.

Saya punya orangtua
Orang tua saya yang sekarang jauh disana punya harapan besar kepada anaknya untuk bisa menjadi orang sukses. Kewajiban anak adalah membahagiakannya dan mewujudkan apa yang dicita-citakan. Bapak saya meninggal saat saya baru beranjak ke bangku perkuliahan dengan begitu semua kebutuhan keluarga dan biaya sekolah saya beserta adik saya menjadi tanggungan Ibu sepenuhnya. Beliau yang susah payah mengantarkanku menjadi Sarjana dan sekarang masih berjuang menuntaskan pendidikan adik saya di Perguruan Tinggi. Betapa saya akan sangat durhaka jika tidak bisa membantu beliau. Inilah alasan utama saya memilih bekerja. Saya bisa membantu urusan finansial orangtua saya tanpa harus meminta suami. Sementara suami juga masih punya tanggung jawab terhadap kebutuhan ibunya (ibu mertua saya).

Saya ingin mandiri
Wanita lebih sering gelap mata dengaan belanja hehehehe. Pengen baju, pengen perhiasan, aksesoris, gedget, sepatu de el el yang harganya bisa ngabisin gaji 3 bulan (lebay). Saya sungkan jika harus meminta uang shopping kepada suami sementara kebutuhan rumah tangga begitu besar. Jadi dengan tetap bekerja saya bisa belanja dengan uang hasil sendiri.

Me time sejenak
Ahhhh... ini yang penting. Bisa bayangin gak sih stay dirumah bersama ibu mertua pasti jadi salting mau ngapain, mau ini itu sungkan dan takut salah. Sedangkan di kantor saya bisa sedikit berselancar kedunia maya dengan ngeblog atau hanya pantengin sosmed jika ada waktu luang disela pekerjaan.

Bisa pulang kerja tepat waktu, tanpa ada teman yang nyinyir
Saya sangat mencintai lingkungan pekerjaan saya saat ini, hampir semuanya sudah berkeluarga jadi mereka juga paham bagaimana banyaknya urusan rumah yang mesti dibagi dengan urusan kantor apalagi jika memiliki anak yang masih balita, pekerjaan akan 2x lipat lebih banyak. Selama ini teman-teman kantor bisa saling support  dan backup baik itu urusan kantor maupun urusan keluarga masing-masing. Khusunya ibu-ibu akan berusaha memanage pekerjaannya semaksimal mungkin agar dapat pulang tepat waktu dan tidak telat. Kalau pekerjaan sudah beres dan bisa pulang tepat waktu kenapa harus ditelat-telatin? hehehe

Suami membantu pekerjaan rumah
Bukannya mau membangga-banggakan suami nih ya.. tapi memang kebetulan suami saya mengerti bahwa semua pekerjaan rumah itu bukan diperuntukkan bagi istri. Saat ini memang ada mbaknya yang mengasuh anak, tetapi tidak menginap jadi semua pekerjaan rumah tetap dikerjakan sendiri. Beberapa pekerjaan rumah sering dihandle suami ketika saya repot bersama si kecil sementara mbaknya sudah pulang, seperti mencuci piring kotor, mencuci baju atau ngepel. Alhamdulillah ya suami tidak penganut paham patriarki. Love you lah pokoknya :-*



Wassalamualaikum Wr. Wb.

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. aku juga ibu yang bekerja loh, dan semua juga ada alasannya
    suami mengizinkan dan pengen bahagiain ortu :)


    tetep semangat ajalah, sekarang mah sudah biasa mbak zamannya pada nyinyir
    apa sih yang sekarang ini enggak di nyinyinrin? apa apa dinyinyirin kog...

    ReplyDelete