Catatan Mantan Calon Guru

April 19, 2016
Assalamualaikum Wr. Wb.

Ujian Nasional (UN) Sekolah Menengah Atas (SMA) telah usai diselenggarakan pada 4-6 April 2016 dan seluruh peserta masih harus menunggu sampai tanggal 7 Mei 2016 untuk melihat hasilnya. Sedikit flashback jaman saya dulu  generasi lulusan tahun 2008, saat-saat menunggu pengumuman adalah saat-saat yang sangat mendebarkan bahkan menjadikan suasana hati jadi super duper galau. Eh jaman dulu belum populer kata galau hehehe.... Aktivitas yang kita lakukan adalah seputar doa bersama, doa bersama dan doa bersama. Berdoa mohon pertolongan Allah agar diberikan hasil terbaik atas usaha yang kita lakukan selama kurang lebih 3 tahun belajar.

Lalu kita lihat generasi sekarang ! Apakah yang mereka lakukan serupa dengan generasi kita? entahlah apa yang mempengaruhi mereka sampai puluhan wartawan menulis breaking news tentang berbagai jenis party yang mereka adakan dalam menyambut kelulusannya. Hal-hal diluar nalar mereka buat padahal mereka masih calon lulusan yang belum dinyatakan LULUS. Miris sekali rasanya melihat berbagai foto tidak selayaknya yang mereka unggah di sosial media. Mereka sepertinya tidak tahan menunggu sampai pengumuman kelulusan tanggal 7 Mei 2016 nanti untuk merayakan ritual coret-coret baju seragam dan konvoi dijalanan.

Coret-coret baju seragam dan konvoi dijalanan sepertinya dirasa masih kurang untuk memperlihatkan siapa mereka yang sedang bahagia karena telah menyelesaikan UN. Siswi-siswi nan cantik itu lebih berani lagi dalam mengundang perhatian sosial. Rok abu-abu yang memang dijahit ketat pres body itu mereka sobek sampai keatas paha (biar longgar kali ya). Sebenarnya apa yang mereka inginkan dengan tindakan sosial yang dinilai jauh dari etika baik itu? Predikat pelajar sensual kah? atau itu wujud kebebasan mereka dari belenggu UN kah?



Era digital sekarang ini memang terus menarik kita  untuk selalu posting dan share apapun aktivitas kita di sosial media, begitu juga dengan para pelajar sensual calon lulusan tadi juga memposting foto-foto aktivitas yang mereka buat untuk merayakan selesainya UN. Generasi  itu memposting foto yang tidak pantas dengan pose memperlihatkan lekuk molek tubuh khususnya bagian pantat dan dada sehingga mereka terlihat sensual dan menggoda (terkesan vulgar menurut saya)  kemudian dishare beribu pemilik akun lainnya. Tidak hanya sebatas itu, aktivitas mereka masih dilanjutkan ke yang lebih ngeri... mengarah ke perilaku seks. Naudzubillahi mindzalik....

Siapakah yang patut disalahkan dalam kasus ini?
Orang tua sebagai madasrah bagi anak-anaknya kah?
Guru sebagai pendidik formal kah?
Lingkungan kah?

Jujur sebagai orang tua, saya merasakan kekawatiran terhadap tumbuh kembang buah hati saya yang sebentar lagi akan tumbuh menjadi 1 generasi diatas mereka dengan banyak kemungkinan pengaruh.  Gaya hidup modern akan lebih mudah masuk dalam aturan orang tua-anak. Konsep aktualisasi juga kemungkinan akan lebih nyata melalui sebuah persaingan gaya hidup dan kepemilikan barang mewah. Etika, moral dan edukasi terhadap sistem reproduksi kaitannya dengan seksualitas mungkin perlu ditanamkan kepada anak oleh masing-masing orang tua sejak sedini mungkin sesuai dengan tahapan usianya. Jadi ini menjadi tantangan besar kepada ayah ibu untuk terus belajar dan belajar tentang parenting.

Lalu sebagai guru? apa peran mereka? Peran guru saat ini tidak hanya menyampaikan apa yang tertulis dalam buku teks. Dengan munculnya generasi "pelajar sensual" saat ini akan menjadi tantangan berat terhadap peran dunia pendidikan formal khususnya guru, bagaimana guru bisa menginternalisasikan budi pekerti kepada seluruh anak didiknya. Dunia pendidikan formal pada generasi ini justru seolah seperti penjara bagi peserta didiknya yang puncaknya pada UN sehingga mereka beranggapan BEBAS jika telah melampaui UN. Apakah macam ini alasan mereka ? entahlah........
Dulu saya sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Keguruan dengan harapan saya bisa mengabdi menjadi pendidik namun rejeki yang Allah berikan sekarang belum kesana. Saya tidak pernah menyesal kuliah di Keguruan meskipun sekarang saya tidak menjadi sosok guru, minimal pendidikan itu bisa saya jadikan bekal dalam mendidik anak. Jujur secara pribadi saya ragu apakah sanggup menahan gejolak emosi, malu, iba dan perasaan gagal menjadi pendidik jika saat itu saya benar-benar terjun kedalam dunia pendidikan formal. Salut kepada Bapak ibu guru di era saat ini karena sanggup menahan semua perasaan itu.

Lingkungan ? Tanpa disadari lingkungan adalah pembawa pengaruh yang cukup besar baik melalui dunia nyata maupun melalui dunia maya. Rayuan-rayuan bahkan hipnotis-hipnotis negatif akan sangat pesat masuk kedalam pikiran remaja walaupun mereka hanya duduk manis dirumah karena singnal telah menyebar keseluruh pelosok sehingga mereka akan dengan mudah mengakses dan berhubungan melalui media internet.
Orang tua sebagai controlling utama terhadap anak harus bisa lebih hati-hati dalam memberikan kebijakan dan aturan kepada anak-anak. Controlling orang tua bisa berupa curhat anak dan ayah atau anak dan ibu sehingga orang tua bisa mengikuti dan mengarahkan perkembangan anak dalam segala aspek. 

#PrayforduniapendidikanIndonesia

Wassalamualaikum Wr. Wb.

No comments:

Powered by Blogger.