ART Vs Day care

By yeni susanti - 12:05:00

Assalamualaikum Wr. Wb.

Akhir-akhir ini saya sedang galau memikirkan nasib si anak,  mau dikemanain nih bayi ? (macam ibu yang mau buang bayi hasil hubungan gelap aja wkwkwkwk.......... )


Seminggu yang lalu ART yang biasa mengasuh Rafa tiba-tiba pamitan mau berhenti bekerja, alasannya sudah capek momong. Memang sih Rafa tipe anak yang super aktif dan terlampau eksploratif dengan hal-hal baru bahkan jika punya kemauan dia susah dialihkan. Akhir-akhir ini Rafa juga saya akui lebih susah perawatannya, makan susah, minum susu juga gak mau. ASIP yang biasa dari bayi dia minum sekarangpun juga ditolak, kadang-kadang mau tapi dengan catatan tanpa media dot (bisa pakai sedotan, gelas, atau disendoki). Ditambah lagi Rafa menolak semua jenis susu tambahan, saya sudah mencoba memberinya beberapa merk sufor dan UHT hasilnya nihil, dia hanya mau mencicipi saja dan tidak menyukainya. Hiks gak tau harus sedih atau seneng. Pernah saya memberikan suplemen makanan karena Rafa susah makan, saya mencoba memberinya merk Pedi*sure awalnya mau tapi sekarang benar-benar menolak, lalu saya ganti dengan merk Bebel*c habis 60 ml dan saya lihat reaksinya kurang bagus, dia jadi sering pup dan pupnya lebih lembek tidak seperti biasa akhirnya saya stop. Saran bumer suruh ngasih S*M Eksplor seperti sepupu-sepupunya yang lain, akupun nurut dan membelikannya, masih sama Rafa tetap menolaknya. Jadi dirumah ada stok beberapa merk sufor mau diapain coba? Beli mahal-mahal gak disentuh sama sekali. UHT juga pernah saya coba awalnya suka habis setengah kotak kecil tapi sekarang sudah gak mau lagi kalo dikasih malah dibuat mainan. Saya sudah putus asa memberinya susu tambahan, akhirnya bertahan dengan tetap pumping demi menghasilkan ASIP saat saya tinggal kerja namun buat mbaknya (ART) memberikan ASIP dengan media selain dot itu diakui sangat merepotkan dan  membuatnya tidak sabar. 

Selama ini, tugas ART selain mengasuh Rafa juga sebagai laundry service (mencuci dan setrika). Oh iya ART saya tidak menginap jadi dia datang jam 07:00 pagi dan pulang jam 16:00. Biasanya sebelum mbaknya datang saya sudah selesai menyuapi sarapan dan kadang-kadang sudah memadikannya jadi saat dia datang tinggal menemani main dan menidurkannya, setelah Rafa tidur bisa ditinggal mencuci atau setrika. Saya akui mbaknya memang lumayan tlaten dalam menyuapi makan dan memberi camilan buah atau biskuit. Namun mbkanya yang ini punya karakter pendiam jadi Rafa jarang diajak ngobrol jadi lebih sering diajak nonton TV kalau anaknya sudah mulai bosan main dan mulai cranky.

Minggu kemaren suami kebetulan lagi tugas keluar dan mbaknya baru pamitan mau resign setelah suami pulang. Mendengar hal itu akhirnya saya dan suami berinisiatif mencari Preschool & Day Care. Ketemulah dengan KB & RA Permata Hati di daerah Jebres, masih satu Kecamatan dengan tempat tinggal kita. Rafa diperbolehkan mulai masuk di awal bulan Mei nanti, jadi saat ini saya masih ada kesempatan untuk memantapkan hati dan berusaha ikhlas. Dan yang terpenting adalah menyiapkan untuk Senin nanti dia mulai masuk sekolah terutama bekal. Sejauh ini saya dan suami mantap untuk menitipkan Rafa di day care dengan berbagai pertimbangan. Dulu saat saya mulai masuk kerja sehabis cuti dan belum mendapat pengasuh juga pernah menitipkan Rafa di TPA Instansi saya bekerja selama kurang lebih sebulan. Waktu itu Rafa masih bayi dan masih ASI Eksklusif jadi kalau pagi tidak serepot sekarang yang mesti menyiapkan sarapan dan menyuapi ditambah lagi kalo anaknya lagi kurang mood makan, sesi makan bisa jadi hampir sejam.  Hal itulah yang membuat saya galau, apakah bundanya nanti bisa setlaten mbaknya dalam hal menyuapi makan sementara di day care satu bunda mengasuh 3 balita.

Mulailah saya browsing-browsing tentang kelebihan dan kekurangan menitipkan anak di day care demi memantapkan hati dan mengurangi perasaan galau saya. Berikut hasil browsing yang saya kaitkan dengan kondisi Rafa saat ini :

Lokasi. Day care yang saya pilih kali ini masih dekat dengan rumah dan yang penting juga dekat dengan kantor, sehingga bisa mengurangi jam perjalanan yang mungkin kurang baik untuk balita.

Biaya. Day care yang standart di Solo rata-rata biayanya Rp 350.000,00 - Rp 500.000,00 per bulan. Jika dibandingkan dengan ART bisa dibilang sangat-sangat lebih ngirit. Selama ini saya menggaji ART Rp 250.000,00 per minggu. Namun resikonya adalah semua pekerjaan cuci-setrika harus dikerjakan sendiri jika menitip anak di day care.

Fasilitas (Ruangan, bangunan, bundanya, media edukasi, dokter, MPASI, dll). Selain day care disitu juga diutamakan untuk sekolah Play Group dan TK. Sekolah ini memang tidak begitu lebar namun saya lihat ada halaman yang cukup untuk area bermain dan ruang kelas yang memadai. Khusus untuk day care dibuatkan satu ruangan besar dengan ventilasi yang baik dilengkapi ruang bermain dan ruang tidur serta dekat dengan kamar mandi. Sementara untuk pengasuhnya yang disini biasa dipanggil bunda, ada 4 orang untuk mengasuh 12 bayi dan balita. Mereka juga menggunakan seragam dan tidak kelihatan jorok. Sekilas juga sangat ramah. Beberapa minggu atau bulan sekali akan ada kunjungan dokter anak, dokter gigi dan THT. Terpenting adalah MPASI, berdasarkan info dari kepala sekolah untuk anak yang dititpkan di day care akan disediakan snack dan makan siang. Hanya saja untuk menunya saya belum tau persis apakah teksturnya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak atau tidak, untuk bayi dibawah 1 tahun menerapkan menu no salt & sugar atau tidak. Sore hari sebelum dijemput pulang anak juga sudah mandi.

Media Belajar. Karena di day care ini juga segedung dengan sekolah PG dan TK maka untuk media belajar anak bisa join dengan kakak-kakaknya. Ini adalah sebuah kelebihan juga karena saya tidak perlu membelikan media permainan dan belajar mahal-mahal karena di day care sudah difasilitasi.

Perkembangan Motorik dan Sosialisasi. Untuk khasus yang ini memang saya belum bisa banyak bicara karena Rafa belum masuk sekolah jadi belum bisa secara langsung melihat perkembangannya. Namun dari beberapa sharing pengalaman dari teman yang juga menitipkan anaknya di day care mengaku jika anaknya akan lebih pandai berkomunikasi. Sampai saat ini Rafa memang belum bisa ngomong bahkan jika menginginkan apa-apa dia selalu menangis. Harapan besar saya adalah ini, semoga dengan bermain bersama banyak teman sebayanya Rafa bisa cepat pandai ngomong setelah di day care.

Bismillah iklhas dan mantap semoga Rafa bisa banyak belajar di day care. Tidak cengeng dan mudah rewel lagi dan yang penting bisa gampang makan dan lebih mandiri.. Amiiin :)

Wassalamualaikum Wr. Wb.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar